| I. | Penanggung jawab | |||
| 1 | Kepala SMK N 1 Batang | : | Drs. Sugito, M.Si | |
| II. | Pembinaan | |||
| 1 | Pembina OSIS | : | Triyono, S.Pd, M.Si | |
| 2 | Pembina Adminitrasi | : | Ike Yulistika, S.Pd | |
| 3 | Pembina Sie. KTTYME | : | Maradanu Susilo, S.PdI | |
| 4 | Pembina Sie. BPLAM | : | Ranny Fahriyanti, S.E | |
| 5 | Pembina Sie. KUWKBN | : | Nurudin Fajar, S.Sos | |
| : | Ana Yuliawati, S.Pd | |||
| 6 | Pemnbina Sie. PAOR | : | Muhammad Soleh, S.Pd | |
| 7 | Pembina Sie. DHPPLHKTS | : | Wawan Setiawan, S.Pd, M.Si | |
| 8 | Pembina Sie. KKK | : | Sri Setyani, S.Pd | |
| 9 | Pembina Sie. KJKGBSGT | : | Ratna Purwati, S.Pd | |
| 10 | Pembina Sie. SB | : | Amirul Mukminin, S.Pd | |
| 11 | Pembina Sie. TIK | : | Pradata Damar W, S.Kom | |
| 12 | Pembina Sie. KDBI | : | Karunia Dwi M, S.Pd | |
| III. | Pengurus | |||
| 1 | Ketua Umum | : | Putri Nur Amaliani | |
| 2 | Wakil Ketua I | : | Wahyu Mukti Ningsih | |
| 3 | Wakil Ketua II | : | Akhmat Arif Nurdin | |
| 4 | Sekretaris Umum | : | Rizky Novita | |
| 5 | Sekretaris I | : | Safira Dinar Pratiwi | |
| 6 | Sekretaris II | : | Ulfa Sabilullah | |
| 7 | Bendahara Umum | : | Hanif Annisa' | |
| 8 | Bendahara I | : | Dewi Safitri | |
| 9 | Bendahara II | : | Oktarina Vikaning K. D. | |
| 10 | Sie. KTTYME I | : | Syahib Hanyato | |
| 11 | Sie. KTTYME II | : | Khotimah | |
| 12 | Sie. BPLAM I | : | Wahyu Nurul Hikmah | |
| 13 | Sie. BPLAM II | : | Dimas Nureska D. S. | |
| 14 | Sie. KUWKBN I | : | Denninta Pujiati | |
| 15 | Sie. KUWKBN II | : | M. Rafi Kurniawansah | |
| 16 | Sie. PAOR I | : | Nurul Huda | |
| 17 | Sie. PAOR II | : | Ayu Prasetyaningrum | |
| 18 | Sie. DHPPLHKTS I | : | Prasetiyo | |
| 19 | Sie. DHPPLHKTS II | : | M. Ibrahim Yusuf | |
| 20 | Sie. KKK I | : | Suntari | |
| 21 | Sie. KKK II | : | Aminatun Siska Anggiana | |
| 22 | Sie. KJKGBSGT I | : | Hidayatu Rohmah Aruzen | |
| 23 | Sie. KJKGBSGT II | : | Nur Alif Prasetyo | |
| 24 | Sie. SB I | : | Ichsan Chasanti | |
| 25 | Sie. SB II | : | Retsiana Satyarti Gutami | |
| 26 | Sie. TIK I | : | M. Abdul Wahab | |
| 27 | Sie. TIK II | : | Bima Bagaskara | |
| 28 | Sie. KDBI I | : | Septiana Nurmaningsih | |
| 29 | Sie. KDBI II | : | Ersanti | |
Selasa, 20 Oktober 2015
STRUKTUR PEGURUS OSIS SMK NEHGERI 1 BATANG MB 2014/2015
STRUKTUR PEGURUS OSIS SMK NEHGERI 1 BATANG MB 2014/2015
humum menuntut ilmu
HUKUM MENUNTUT ILMU AGAMA, MENGAJARKAN DAN
KEUTAMAANNYA
A. HUKUM MENUNTUT ILMU DAN MENGAJARKANNYA
1. Hukum Menuntut Ilmu
Apabila kita menelaah isi Al-Qur'an
dan Al-Hadis, niscaya kita akan menemukan beberapa nas yang menjelaskan
kewajiban menuntut ilmu, baik bagi laki-laki ataupun perempuan. Tujuan
diwajibkannya mencari ilmu tiada lain yaitu agar kita menjadi umat yang cerdas,
jauh dari kabut kejahilan atau kebodohan.
Menuntut ilmu artinya berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan bertanya, melihat, ataupun mendengar. Perintah kewajiban menuntut ilmu
terdapat dalam hadis Nabi Muhammad saw.:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلٰى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ . (رواه ابن عبد البر)
"Menuntut ilmu adalah fardhu
bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan." (HR. Ibn
Abdul Barr)
Dari hadis di atas dapat kita ambil
pengertian, bahwa Islam mewajibkan pemeluknya untuk menuntut ilmu, baik bagi
laki-laki ataupun perempuan. Dengan ilmu yang dimilikinya, seseorang dapat
mengetahui segala bentuk kemaslahatan dan jalan kemanfaatan. Dengan ilmu pula,
ia dapat menyelami hakikat alam, mengambil pelajaran dari pengalaman yang
didapati oleh umat terdahulu, baik yang berhubungan dengan masalah-masalah
akidah, ibadah, ataupun yang berhubungan dengan persoalan keduniaan. Nabi
Muhammad saw. bersabda:
مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ اَرَادَ الْاٰخِرَةَ
فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ اَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ. (متفق عليه)
"Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan
dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barang siapa yang ingin
(selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia memiliki ilmunya pula; dan
barang siapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu
kedua-keduanya pula." (HR.Bukhari dan Muslim)
Islam mewajibkan kita untuk menuntut
berbagai macam ilmu dunia yang memberi manfaat dan dapat menuntun kita mengenai
hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan dunia. Hal tersebut dimaksudkan agar
tiap-tiap muslim tidak picik, dan agar setiap muslim dapat mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi segenap manusia
yang ada di dunia ini dalam batasan yang diridhai oleh Allah swt.
Demikian pula Islam mewajibkan kita
menuntut ilmu akhirat, karena dengan mengetahuinya kita dapat mengambil dan
menghasilkan suatu natijah, yakni ilmu yang dapat diamalkan sesuai
dengan perintah syara'.
Seorang mukallaf wajib menuntut ilmu
yang bersifat ‘ain, yaitu pada masalah yang
berkenaan dengan akidah. Hal ini dikarenakan dengan mengetahui ilmunya, maka
akidah yang melenceng dapat diluruskan. Selain itu, seorang mukallaf juga wajib
menuntut ilmu yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban lain seperti salat,
puasa, zakat dan haji. Di samping itu, wajib pula bagi seorang mukallaf
mempelajari ilmu akhlak, yang mana dengannya ia dapat mengetahui adab dan sopan
santun yang harus dilaksanakan, dan tingkah laku buruk yang harus ditinggalkan.
Adapun ilmu lain yang tidak kalah pentingnya dimiliki oleh seorang mukallaf
yaitu ilmu keterampilan, yang dapat menjadi tonggak hidupnya.
Adapun ilmu yang tidak berkaitan
dengan aktifitas keseharian, maka yang wajib dipelajari hanya pada batas yang
dibutuhkan saja. Sebagai contoh, seseorang yang hendak memasuki gapura
pernikahan, maka ia wajib mengetahui syarat-syarat dan rukun-rukunnya serta
segala sesuatu yang diharamkan dan dihalalkan dalam menggauli istrinya.
Sedang ilmu yang wajib kifayah, maka
hukum mempelajarinya tidaklah diwajibkan bagi setiap mukallaf. Kewajiban
mempelajarinya gugur apabila salah satu dari mereka sudah ada yang
mempelajarinya. Hal tersebut dikarenakan ilmu-ilmu yang wajib kifayah hanya
bersifat sebagai pelengkap, seperti ilmu tafsir, ilmu hadis dan sebagainya.
2. Hukum Mengajarkan Ilmu
Seseorang yang telah mempelajari dan
memiliki ilmu, maka yang menjadi kewajibannya adalah mengamalkan segala ilmu
yang dimilikinya, sehingga ilmunya menjadi ilmu yang manfaat; baik manfaat bagi
dirinya sendiri ataupun manfaat bagi orang lain.
Agar ilmu yang kita miliki
bermanfaat bagi orang lain, maka hendaklah kita mengajarkannya kepada mereka.
Mengajarkan ilmu-ilmu kepada orang lain berarti memberi penerangan kepada
mereka, baik dengan uraian lisan, atau dengan melaksanakan sesuatu amal dan
memberi contoh langsung di hadapan mereka atau dengan jalan menyusun dan
mengarang buku-buku untuk dapat diambil manfaatnya.
Mengajarkan ilmu memang diperintah
oleh agama, karena tidak bisa disangkal lagi, bahwa mengajarkan ilmu
adalah suatu pekerjaan yang ssangat mulia. Nabi diutus ke dunia ini pun dengan
tugas mengajar, sebagaimana sabdanya:
بُعِثْتُ لِاَكُوْنَ مُعَلِّمًا. (رواه البيهقى)
" Aku diutus ini, untuk menjadi pengajar." (HR. Baihaqi)
Sekiranya
Allah tidak mengutus rasul untuk menjadi guru bagi manusia, guru dunia,
tentulah manusia tinggal dalam kebodohan sepanjang masa.
Walaupun akal dan otak manusia
mungkin dapat menghasilkan berbagai ilmu pengetahuan, namun disisi lain masih ada juga hal-hal yang
tidak dapat dijangkaunya, yaitu hal-hal yang berada di luar akal manusia. Untuk
itulah Rasulullah diutus di dunia ini.
Mengingat pentingnya penyebaran ilmu
pengetahuan kepada manusia secara luas, agar mereka tidak berada dalam
kebodohan dan kegelapan, maka diperlukan kesadaran bagi para mu‘allim (guru), dan ulama untuk beringan
tangan menuntun mereka menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Hal tersebut
dikarenakan para guru dan ulama yang suka menyembunyikan ilmunya, maka
mereka akan mendapatkan ancaman, sebagaimana sabda Nabi saw.:
مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ اَلْجَمَهُ اللهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنَ النَّارِ. (رواه احمد)
" Barang siapa ditanya tentang sesuatu
ilmu, kemudian menyembunyikan (tidak mau memberikan jawabannya), maka Allah
akan mengekangnya (mulutnya), kelak di hari kiamat dengan kekangan (kendali)
dari api neraka." (HR. Ahmad)
Oleh karena itu, marilah kita
menuntut ilmu pengetahuan, sesempat dan sedapat mungkin dengan tidak ada
hentinya, tanpa absen sampai ke liang kubur, dengan ikhlas dan tekad akan
mengamalkan dan menyumbangkannya kepada masyarakat, agar kita semua dapat
mengenyam hasil dan buahnya.
B. KEDUDUKAN ORANG YANG BERILMU
Jika ditinjau dari segi orang yang memiliki ilmu
dengan orang yang tidak memiliki ilmu, maka sungguh jauh sekali perbedaannya.
Baik dari segi nilainya maupun derajatnya, sebagaimana firman Allah swt.:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ
يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا
الْاَلْبَابِ. (الزمر:۹)
"
Katakanlah,
'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?' Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima
pelajaran." (QS.
Az-Zumar/39: 9)
Dalam ayat yang lain Allah swt. berfirman:
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ
دَرَجٰتٍ. (المجادلة: ۱۱)
" Niscaya Allah akan mengangkat
(derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
beberapa derajat." (QS.
Al-Mujãdalah/58: 11)
Ayat-ayat tersebut menggambarkan, betapa tingginya
nilai dan derajat orang yang berilmu. Dengan ilmu manusia akan memperoleh
segala kebaikan, dan dengan ilmu pula manusia akan memperoleh kedudukan yang
mulia. Walaupun dimungkinkan pada suatu ketika pandangan manusia terhadap ilmu atau pemilik ilmu menjadi
kabur, karena kerasnya pengaruh benda-benda dan pergeseran nilai kehidupan yang
lain, tetapi kita yakin pada suatu ketika manakala bahaya yang ditimbulkan oleh
benda-benda atau lainnya telah menghebat, niscaya orang akan kembali lagi
mencari ilmu untuk mengatasi masalah yang ada sebagai pengobatnya.
C. MENUNTUT ILMU SEBAGAI IBADAH
Dilihat dari derajat dan kedudukan ilmu, sungguh
menuntut ilmu itu memiliki nilai dan pahala yang sangat mulia disisi Allah swt.
Selain itu, menuntut ilmu juga bernilai ibadah sebagaimana sabda Nabi Muhammad
saw.:
لِاَنْ
تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ اٰيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةٍ.
" Sungguh sekiranya engkau
melangkahkan kaki di waktu pagi (maupun petang), kemudian mempelajari satu ayat
dari Kitab Allah (Al-Qur'an), maka pahalanya lebih baik daripada ibadah satu
tahun. "
Dalam hadis lain dinyatakan:
مَنْ خَرَجَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَتّٰى
يَرْجِعَ. (رواه الترمذى)
" Barang siapa yang pergi untuk
menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang
menegakkan agama Allah) hingga ia pulang kembali. " (HR. Tirmidzi)
Mengapa menuntut ilmu itu sangat tinggi nilainya
dilihat dari segi ibadah? Karena amal ibadah yang tidak dilandasi dengan ilmu
yang berhubungan dengan itu, akan sia-sialah amalnya. Syaikh Ibnu Ruslan dalam
hal ini menyatakan:
وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ اَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لَا تُقْبَلُ.
"
Siapa saja
yang beramal (melaksanakan amal ibadah) tanpa dilandasi ilmu, maka segala
amalnya akan ditolak, yakni tidak diterima.
Langganan:
Komentar (Atom)